Risalah al-Maqamat fi 'Ilm al-Hikmah:
Maqam Dalam Tahawwul (Relasi Horizontal)
Tahawwul antar maqam sejajar adalah gerak ruhani yang tidak selalu menandakan kenaikan atau penurunan, melainkan pergeseran batin dari satu maqam ke maqam lain yang setara dalam kedalaman, namun berbeda dalam warna dan medan ujian. Pergeseran ini sering kali terjadi tanpa disadari, sebab ia tidak disertai dengan perubahan bentuk lahiriah yang mencolok, melainkan berlangsung dalam ruang batin yang sunyi. Justru dalam pergeseran mendatar inilah, hikmah-hikmah halus sering kali muncul, karena salik dituntut untuk menjaga keseimbangan antara maqam yang berbeda namun saling menuntut kehadiran penuh.
Al-Qur’an memberi isyarat tentang dinamika horizontal ini dalam firman-Nya: “Dan Kami jadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar?” (QS. al-Furqan: 20). Ayat ini menunjukkan bahwa ujian tidak selalu datang dari atas ke bawah, tetapi juga dari samping—dari sesama manusia, dari keadaan yang sejajar, dari peristiwa yang tidak mengubah status, tetapi mengguncang batin. Dalam al-Ma’arif al-Ilahiyyah fi al-Tanqiyyah al-Nafsiyyah, al-’Arif al-Khazin al-Kirmani menulis bahwa “tahawwul bayna al-maqamat al-mutaqaribah huwa mihnat al-’arifin,” pergeseran antar maqam yang berdekatan adalah ujian para arif, karena ia menuntut kepekaan terhadap isyarat yang tidak tampak.
Contoh dari tahawwul horizontal adalah pergeseran dari maqam al-Bahs ke maqam al-Tazkiyah, atau dari maqam al-Fana' ke maqam al-Hadrah. Masing-masing maqam ini tidak lebih tinggi dari yang lain secara hierarkis, namun memiliki tekanan ruhani yang berbeda. Dalam al-Maqalat al-’Ilmiyyah fi al-Tajrid wa al-Tawhid, al-’Arif al-Maghribi al-Sayyid ‘Abd al-Rahman al-Tilimsani menjelaskan bahwa “al-tahawwul huwa harakah fi al-samt, la fi al-irtifa’” pergeseran maqam adalah gerak dalam arah, bukan dalam ketinggian. Maka, hikmah yang muncul bukan dari pencapaian, tetapi dari kemampuan membaca arah dan menyesuaikan diri dengan suhu ruhani yang baru.
Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Tirmizhi menyebutkan: “Sesungguhnya hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Dia membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.” Para arif seperti al-Imam al-’Aththar dalam Nawadir al-Hikam menafsirkan bahwa bolak-baliknya hati ini mencerminkan tahawwul maqam yang tidak selalu dapat dikendalikan oleh kehendak manusia. Maka, hikmah dalam relasi horizontal muncul ketika salik tidak memaksa dirinya untuk tetap dalam satu maqam, tetapi bersedia digerakkan oleh kehendak Ilahi ke maqam lain yang sejajar, namun mengandung pelajaran baru.
Dalam al-Mathali’ al-Anwar fi ‘Ulum al-Asrar, al-’Arif al-Khalidi al-Shalih ibn ‘Abd al-Lathif al-Shan’ani menulis bahwa “al-tahawwul huwa tajdid al-hikmah bi-la taghyir al-maqam,” pergeseran antar maqam sejajar adalah pembaruan hikmah tanpa harus mengubah maqam secara struktural. Maka, seorang salik yang berpindah dari maqam syukr ke maqam tawaḍu’, misalnya, tidak sedang naik atau turun, tetapi sedang memperluas cakrawala dzauqnya agar tidak membeku dalam satu bentuk.
Relasi horizontal ini juga menjadi medan pengujian terhadap keutuhan dzauq. Sebab, dalam pergeseran mendatar, tidak ada pujian, tidak ada pengakuan, dan tidak ada tanda-tanda lahiriah yang bisa dijadikan ukuran. Justru di sinilah salik diuji: apakah ia tetap menjaga adab, ataukah ia hanya semangat ketika merasa “naik.” Dalam al-Haqaʾiq al-Maknunah fi al-Maqamat al-Ruhiyyah, al-’Arif al-Bashri al-Hasan ibn al-’Ajami menyebut bahwa “al-tahawwul huwa mihakk al-shidq, wa al-shidq la yazhar illa fi al-muwazanah,” pergeseran adalah batu uji kejujuran, dan kejujuran hanya tampak dalam keseimbangan.
Dengan demikian, tahawwul antar maqam sejajar adalah bentuk gerak ruhani yang menuntut kepekaan, kesabaran, dan keluasan dzauq. Dalam pembahasan berikutnya, kita akan menelusuri bagaimana gerak spiral dalam maqam—yakni pengulangan yang tidak stagnan—menjadi medan penyingkapan yang lebih dalam, dan bagaimana hikmah justru sering kali muncul dari maqam yang pernah ditinggalkan, namun kini disinggahi kembali dengan kedalaman baru. Sebab, jalan ruhani bukan garis lurus, melainkan lingkaran yang terus berputar menuju pusat.