Dibaca 0 kali

Bolehkah Tidak Bisa Ngaji Belajar Hikmah?

Apakah seseorang yang belum bisa ngaji boleh belajar ilmu hikmah? Simak syarat adab dan tuntunannya di sini.
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter
0 Suka
0 Share
0
Bolehkah Tidak Bisa Ngaji Belajar Hikmah?

Boleh. Bahkan dalam banyak riwayat dan fatwa ulama hikmah, tidak ada satu pun yang melarang sālik untuk memulai perjalanan ruhani meski belum mampu membaca Al-Qur’an secara fasih. Sebab ilmu hikmah bukan sekadar hafalan, melainkan pengalaman batin yang diperoleh melalui dzikir, adab, dan mujahadah. Yang menjadi syarat bukan kemampuan teknis, tetapi keikhlasan dan kesungguhan hati.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu yang membawa seseorang kepada Allah. Beliau menyebut bahwa ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hijab, dan ilmu yang diamalkan meski sedikit akan menjadi cahaya. Maka, seseorang yang belum bisa membaca Al-Qur’an tetapi menjaga dzikir, adab, dan niat yang lurus, lebih dekat kepada hikmah daripada yang fasih membaca namun lalai dalam amal.

KH Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, tanpa memandang kemampuan awal. Beliau menyebut bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan beriman, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11. Maka, belajar ilmu hikmah adalah bagian dari menunaikan kewajiban, bukan kemewahan yang hanya boleh dimiliki oleh yang sudah mahir.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” Ayat ini menjadi pegangan utama bahwa keterbatasan teknis bukanlah penghalang dalam menuntut ilmu. Bahkan dalam hadits riwayat Bukhari, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata akan mendapat dua pahala: satu karena membaca, dan satu karena bersungguh-sungguh.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam al-Fath ar-Rabbani menulis bahwa ilmu hikmah adalah warid yang turun kepada hati yang bersih, bukan kepada lisan yang fasih. Beliau menyebut bahwa banyak sālik yang tidak mampu membaca Al-Qur’an secara sempurna, tetapi hatinya dipenuhi oleh dzauq dan kehadiran. Maka, yang menjadi ukuran bukanlah kemampuan teknis, tetapi maqam batin yang dijaga dengan adab.

Imam al-Qushayri dalam Risalah al-Qushayriyyah menyebut bahwa ilmu hikmah adalah buah dari mujahadah dan murāqabah. Beliau menulis bahwa banyak sālik yang memulai perjalanan ruhani dengan dzikir dan diam, bukan dengan hafalan. Maka, seseorang yang belum bisa ngaji tetapi menjaga dzikir dan adab, lebih dekat kepada hikmah daripada yang sibuk dengan lafaz namun lalai dalam hati.

Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah menulis bahwa ilmu yang sejati adalah yang membangkitkan rasa takut dan cinta kepada Allah. Beliau menyebut bahwa banyak wali yang tidak dikenal karena tidak fasih dalam ilmu formal, tetapi dikenal di langit karena dzauq dan keikhlasan mereka. Maka, ilmu hikmah adalah taman yang terbuka bagi yang sabar dan tunduk, bukan hanya bagi yang fasih dan hafal.

Syaikh Ahmad Zarruq dalam Qawaid al-Tasawwuf menegaskan bahwa ilmu hikmah harus dijaga dengan adab, bukan dengan ambisi. Beliau memperingatkan bahwa banyak sālik yang tergesa ingin menguasai lafaz, tetapi lupa menyucikan hati. Maka, seseorang yang belum bisa ngaji tetapi menjaga keikhlasan dan tidak tergesa, lebih dekat kepada keselamatan ruhani.

Dalam kitab Shams al-Ma‘arif, Imam al-Buni menulis bahwa amalan yang tidak dijaga dengan adab akan membuka pintu hawa, bukan pintu nur. Beliau menyebut bahwa banyak orang yang mengamalkan hizb dan tilsam tanpa memahami makna, lalu tergelincir dalam waham. Maka, belajar ilmu hikmah harus dimulai dengan adab dan bimbingan, bukan dengan hafalan semata.

Imam al-Suhrawardi dalam ‘Awārif al-Ma‘ārif menyebut bahwa ilmu hikmah adalah warisan para nabi, yang diturunkan kepada hati yang tunduk. Beliau menulis bahwa banyak sālik yang tidak memiliki kemampuan teknis, tetapi memiliki kehadiran batin yang kuat. Maka, yang menjadi syarat bukanlah fasih membaca, tetapi siap menerima cahaya dengan sabar.

Dalam tradisi para hukama, banyak murid yang memulai perjalanan ruhani sebelum mahir membaca Al-Qur’an. Mereka memulai dengan dzikir, diam, dan menjaga adab. Mereka tidak tergesa, tidak memaksa, dan tidak merasa rendah. Sebab mereka tahu bahwa Allah melihat hati, bukan kemampuan teknis semata.

Ilmu hikmah bukanlah ilmu formal yang hanya bisa dipelajari oleh yang fasih. Ia adalah taman makna yang terbuka bagi siapa saja yang menjaga tauhid, adab, dan keikhlasan. Maka, seseorang yang belum bisa ngaji tetap boleh belajar, selama ia menjaga niat dan mencari guru yang mu’tabarah.

Guru yang mu’tabarah akan membimbing dengan kelembutan, tidak memaksa murid untuk fasih sebelum memulai. Ia akan menuntun dengan kasih, membimbing dengan sabar, dan membuka pintu dzauq dengan adab. Maka, mencari guru yang benar adalah kunci utama dalam belajar ilmu hikmah.

Kesimpulan

Tidak bisa ngaji bukan penghalang untuk belajar ilmu hikmah. Yang terpenting adalah semangat memperbaiki diri, menjaga tauhid, dan terus belajar dengan adab. Allah melihat kesungguhan hati, bukan kemampuan teknis semata. Maka, jangan ragu untuk memulai, selama niatnya lurus dan jalannya dijaga.

Sumber

Ihya Ulumuddin – Imam al-Ghazali
Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim – KH Hasyim Asy‘ari
al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Risalah al-Qushayriyyah – Imam al-Qushayri
Futuhat al-Makkiyah – Syaikh Ibnu Arabi
Qawaid al-Tasawwuf – Syaikh Ahmad Zarruq
Shams al-Ma‘arif – Imam al-Buni
‘Awārif al-Ma‘ārif – Imam al-Suhrawardi

Catatan ini disarikan dari halaqah al-Zavasnozi, dicatat dan dipublikasikan oleh:

eL-Ramadhan

Penjaga hikmah digital yang terus berikhtiar menyulam dzauqi ke dalam karya-karya ringan penuh makna, demi mengalirnya rasa ruhani yang menyentuh. Inilah jejak langkah kami, dalam meneruskan warisan yang telah dititipkan. Catatan lainnya →

Seberapa bermanfaat catatan ini bagi Anda?
Berbobot
0
Bermakna
0
Berisi
0
Bagus
0
Biasa
0

Posting Komentar